Spread the love

FGD Klub Berkawan (Bersama Cendekiawan) 2025

Yayasan Elang Muda Tepi Barat melalui program Klub Berkawan 2025 resmi menyampaikan hasil pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ilegal Mining, Ilegal Refinery, Ilegal Logging — Pemuda dan Ekonomi: Mengembangkan Gagasan atas Rendahnya Kesejahteraan Anak Putus Sekolah”, yang telah dilaksanakan pada Sabtu, 15 November 2025, di Food 15, Rupit.

Kegiatan FGD ini menghadirkan tiga narasumber utama:
• Dr. (Cand) Hermansyah Samsiar, M.Pd. – akademisi dan pemerhati sosial-lingkungan
• Chandra Hanafia – Direktur Elang Muda Tepi Barat
• Padli Nopiansyah – Forum Pemuda Pembaharuan

ini mempertemukan pemuda, akademisi, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, dan generasi muda terdampak dalam sebuah forum dialog terbuka mengenai dampak aktivitas ekonomi ilegal terhadap lingkungan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Klub Berkawan 2025 ini bertujuan memperkuat peran pemuda sekaligus memetakan data peningkatan angka anak putus sekolah yang berkaitan dengan tekanan ekonomi akibat aktivitas tri ilegal.

Persoalan Illegal Mining, Illegal Refinery dan Illegal Logging menjadi salah satu isu serius dalam kegiatan Focus Group Discussion yang diikuti puluhan peserta dari tokoh pemuda, perwakilan pelajar, mahasiswa pemerhati lingkungan yang dibuka langsung wakil bupati muratara Junius Wahyudi. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Musi Rawas Utara, H. Junius Wahyudi, menyatakan bahwa pemerintah mendukung penuh kegiatan kepemudaan yang berjalan sesuai koridor yang benar serta menilai bahwa FGD seperti ini mampu melengkapi aktivitas akademik mahasiswa dan menjadi bekal bagi OSIS untuk memasuki perguruan tinggi serta memahami dinamika masyarakat secara langsung. Ia menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan saran sepanjang disampaikan dalam koridor yang santun dan tidak mengandung kebencian maupun unsur SARA yang dapat mengganggu stabilitas daerah, serta membuka ruang diskusi baik di kantor maupun rumah dinas.

Dari diskusi ini disimpulkan bahwa, aktivitas tambang ilegal tidak hanya merusak lingkungan. Namun juga, merusak struktur ekonomi masyarakat dan mengancam masa depan generasi muda. Selain persoalan kerusakan lingkungan, praktik ilegal ini berdampak pada persoalan ekonomi dan kemudian menjadi permasalahan sosial, seperti meningkatnya kemiskinan, pengangguran dan rendahnya akses pendidikan. Dr. (Cand) Hermansyah Samsiar, M.Pd. (Akademisi) menjelaskan pola pikir generasi muda (Gen Z) dalam menghadapi dampak tri ilegal serta penguatan literasi sosial-lingkungan untuk menciptakan ketahanan pemuda. Hermansyah Syamsiar, salah satu narasumber mengatakan forum diskusi ini nantinya menghasilkan berbagai formulasi solusi terkait persoalan yang sebelumnya ilegal menjadi legal. “Dengan diskusi ini kita menjadi formulasi, formulasinya bukan kita menyalahi kemudian menjustice tetapi kita mencari solusi biar terbaik, tentu solusi itu didalam bingkai bukan sekadar principle ideologi tetapi up ideologi”. Chandra Hanafia (Direktur Elang Muda Tepi Barat) memaparkan data anak putus sekolah yang terdampak tri ilegal, serta pentingnya pemetaan data sebagai dasar pengambilan kebijakan. Direktur Yayasan elang Muda Tepi Barat (Candra Hanafia) mengatakan kegiatan ini akan melahirkan gagasan konkret dan rekomendası terkait aktivitas ilegal. “Rekomendasi yang utama itu meminta kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas Utara agar memasukan kegiatan anti 3 ilegal ini ke dalam kurikulum muatan lokal pada seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Musi Rawas Utara”. Kemudian, pemateri ketiga Padli Nopiansyah (Forum Pemuda Pembaharuan) membahas pemikiran-pemikiran dogmatis masyarakat yang masih menganggap aktivitas ilegal sebagai sumber ekonomi, meskipun merusak stabilitas sosial di jangka panjang.FGD ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kesadaran dan aksi kolektif lintas sektor untuk menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sesi diskusi menampilkan beberapa pertanyaan penting dari peserta, peserta menyoroti isu pendidikan, kesempatan kerja, dan arah kebijakan daerah antara lain:

  1. Gerakan Milenial Indonesia (GMI) Muratara: Solusi bagi pemuda yang telah menyelesaikan pendidikan namun menghadapi minimnya peluang kerja.
  2. Karang Taruna Karang Dapo: Apakah pembahasan mengenai tri ilegal bertujuan untuk melegalkan atau menghentikan praktik tersebut.
  3. Forum OSIS Muratara: Langkah yang harus dilakukan pemerintah daerah agar pengangguran pemuda dapat ditekan.
  4. KAMMI: Cara seorang sarjana muda dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru di Muratara.

Pertanyaan-pertanyaan ini menggambarkan tingginya kepedulian pemuda terhadap keberlanjutan pekerjaan dan pembangunan daerah. FGD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, termasuk peningkatan edukasi lingkungan, pembentukan tim pemuda penggerak kampanye anti-aktivitas ilegal, pengembangan peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan, serta penguatan program pendampingan anak putus sekolah berbasis komunitas. Para peserta sepakat bahwa aktivitas ilegal yang semakin meluas berdampak signifikan terhadap kerusakan lingkungan, meningkatnya angka putus sekolah, dan lemahnya stabilitas ekonomi keluarga.

Silakan Berkomentar

Explore More

Hello world!

Spread the loveWelcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Donasi Kolaborasi Aksi pemuda peduli

Spread the loveUpdate Uang Hasil Donasi: Your Attractive Heading

Jadi Mahir Digital Marketing bersama lkp tepi barat

Spread the love Penulis : Chandra Hanafia Hal mendasar yang harus di pahami dalam digital marketing atau pemasaran Digital adalah penguasaan ilmu